Juara Liga Champions tentu menjadi salah satu piala idaman, para pelatih yang mengadu nasib di sepakbola.

Begitu bergengsinya tropi Liga Champions, tidak jarang menjadi tolak ukur keberhasilan seorang pelatih top di kompetisi Eropa. Situasi ini disadari betul oleh Pep Guardiola.

Guardiola sudah memasuki keempatnya menjadi manajer City. Setelah tanpa trofi di musim pertamanya, Guardiola langsung tancap gas dengan meraih tujuh trofi dalam dua tahun terakhir.

Setelah dua trofi, Premier League dan Piala Liga Inggris, di akhir musim 2017/2018, City tancap gas musim lalu dengan menyapu bersih seluruh trofi domestik.

Sayang, pelatih berkepala plontos itu, masih belum berhasil membawa Manchester City, berjaya di Liga Champions.

Padahal sudah menjadi rahasia umum manajemen serta pendukung setia City, begitu mendambakan juara Liga Champions. Hak ini bisa terlihat dari komposisi pemain di City, yang rata-rata berlabel bintang.

Hingga saat ini pencapaian terbaik Citizens bersama Guardiola adalah dua kali perempatfinal di 2018 dan 2019. Bahkan di musim perdana Guardiola, City mentok di 16 besar.

Situasi tersebut tentu tidak menyenangkan bagi manager selevel Guardiola. Apalagi Guardiola sudah pernah berjaya di Liga Champions kala membesut Barcelona.

Nah, walau sadar betul dirinya belum berhasil juara Liga Champions bersama City, Guardiola tidak mau terobsesi untuk meraih juara di kasta tertinggi antar klub Eropa tersebut.

Memang penting, saya tahu betapa pentingnya (trofi Liga Champions) tapi akan tetap penting juga andaikan gagal,” ujar Guardiola di Sportskeeda.

“Saya akan jadi orang yang sama, bangun di pagi hari, banyak bekerja, tidur secepat mungkin, makan cukup, dan merawat diri sebaik mungkin, mencintai orang-orang yang saya cintai,” sambungnya.

“Itu tidak akan mengubah hidup saya sama sekali. Saya akan melakukan yang terbaik, tapi ketika tiba waktunya saya pergi, maka saya tidak akan mengubah pandangan soal berhasil atau tidaknya meraih titel ini.”

Untuk Liga Champions musim ini, City tergabung di Grup C bersama Shakhtar Donetsk, Dinamo Zagreb, dan tim debutan Atalanta. Laga pertama adalah kontra Shakhtar 19 September